90 Persen Ibu Indonesia Jarang Beri Anak Mainan Edukatif

Desember 13, 2010 § Tinggalkan komentar

Ibu-ibu biasanya paling royal membelikan mainan kepada anaknya. Tapi sayangnya mainan yang dibelikan hanya sekedar mainan, bukan mainan yang edukatif dan memberikan rangsangan tumbuh kembang anak.

Mainan bukan hanya dapat membuat anak senang atau berhenti menangis, tetapi juga bisa sebagai media memberikan stimulus untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak.

Berdasarkan hasil penelitian di Posyandu yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada periode Juni 2009 sampai Mei 2010 di 9 Provinsi dan 22 kota di seluruh Indonesia, ditemukan bahwa lebih dari 90 persen ibu masih jarang memberikan anaknya mainan yang memberikan rangsangan tumbuh kembang.

“Kesadaran ibu untuk memberikan stimulus berupa alat permainan masih sangat kurang, padahal stimulus tersebut sangat penting untuk merangsang perkembangan anak, terutama perkembangan otak dan motorik,” jelas Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, dari Fakultas Ekologi Manusia Departemen Gizi Masyarakat IPB, dalam acara Konferensi Pers ‘Ayo ke Posyandu Tumbuh, Aktif, Tanggap’ di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (13/12/2010).

Menurut Dra Mayke S Tedjasaputra, MSi, psikolog anak dan play therapist dari Universitas Indonesia, permainan dapat menstimulasi perkembangan anak, yaitu perkembangan fisik, motorik kasar dan halus, keberanian, kognitif (kemampuan berpikir) dan juga psikososial.

“Bermain merupakan hak anak dan ini sama pentingnya dengan pendidikan itu sendiri. Bermain yang melibatkan interaksi akan merangsang pola pikir anak, juga melatih kecerdasan emosi mereka,” lanjut Dra Mayke.

Untuk mengajak anak bermain, sebenarnya tidak perlu memberikannya mainan mahal, tetapi mainan yang dapat benar-benar merangsang perkembangannya.

Berdasarkan perkembangan usia, berikut sejumlah tahap berpikir pada anak:

0-2 tahun
Merupakan tahap sensori motor, yang terdiri dari sejumlah tahap berikut:

1. 1-4 bulan. Tahap Primary Circular Reaction.
Bayi akan melakukan aksi dan reaksi yang melibatkan tubuhnya sendiri. Pada usia ini, orangtua sebenarnya tak perlu membeli mainan bayi yang mahal. Cukup dengan melakukan baby gym, yaitu menggerak-gerakkan kaki dan tangan bayi, yang berguna untuk merangsang motoriknya.

2. 4-8 bulan. Secondary Circular Reaction
Pada usia ini, bayi biasanya melakukan aksi untuk mendapat respons dari orang atau objek, sehingga bayi cenderung akan mengulangi aksi yang sama.

Lakukan permainan yang akan merangsang kecerdasan audio visual. Misalnya, dengan menirukan suara bayi, bermain ‘cilukba’ yang bervariasi, mengajak bayi bubbling (menyebutkan kata yang sama, seperti ‘mamama’ ‘bababa’), dan lainnya.

3. 8-12 bulan. Coordination of Secondary Schemes
Aksi bayi terhadap objek semakin bertujuan. Bayi juga mulai mampu melakukan antisipasi. Ajaklah bayi bermain dengan benda yang sederhana, seperti bola-bola warna warni.

4. 12-18 bulan. Tertiary Circular Reaction
Bayi akan mulai memvariasikan aksinya. Ajak bayi bermain yang beragam, misal menyusun balok, bermain di pasir atau di air. Ini bisa merangsang indera peraba anak.

5. 18-24 bulan. Mental Combinations
Bayi sudah mampu menguasai bahasa dan konsep object permanence.

3-5 tahun
Ini merupakan tahap preoperational. Pada usia ini kemampuan motorik dan bahasa anak berkembang pesat. Kemampuan kognitif berupa fungsi-fungsi simbolis, berkembang melalui 3 cara:

  1. Meniru kembali, lewat bermain imitatif seperti main masak-masakan, dokter-dokteran dan lainnya.
  2. Bermain simbolis, yaitu dengan memahami identitas dan fungsi benda.
  3. Berbahasa

Pada tahap usia ini, anak sudah siap untuk masuk sekolah. Perbanyak mainan dengan bentuk geometris, seperti bola, lingkaran, persegiempat dan segitiga. Bentuk-bentuk geometris adalah dasar anak untuk bisa menulis huruf.

Ajarkan juga anak makan, mandi dan pakai baju sendiri. Untuk mengajarkan kemandirian tersebut juga bisa dengan bermain, tentunya dengan mainan yang sederhana.

Misalnya dengan menggunakan boneka yang mengenakan baju berkancing, mintalah anak membuka dan memakai kancing baju boneka, memandikannya.

Sumber: Detik.com

 

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 90 Persen Ibu Indonesia Jarang Beri Anak Mainan Edukatif at anakulung.

meta

%d blogger menyukai ini: